Thursday, August 17, 2006

Rendezvouz Orang Aneh

Itu hanyalah judul saja, ndak ada kok orang-orang aneh yang benar-benar be-rendezvous itu, tapi yang ada hanyalah acara 'nyangkruk' bersama saja, ngopi bareng.. ngobrol 'ngalor ngidul', tentang apa saja yang terjadi, tanpa jadwal dan agenda yang di-schedule-kan.

Pertemuan dengan banyak orang-orang aneh sendiri masihlah misterious, dalam arti kata, "kenapa bisa bertemu", la gimana? wong ndak ada yang saling mencari. Tapi mungkin karena kinerja antena dari masing-masing saja, kemudia bisa nyambung dan akhirnya kongkow bareng. Anehnya, kebanyakan dari habitat orang aneh - jika bisa dinamakan demikian - merasa adanya bentuk percepatan. Terlepas dari jarak geografis maupun status bin embel2 sosial ataupun profesi masing-masing orang aneh, kedekatan bisa tercipta, dengan jumlah orang yang semakin banyak, bukan untuk suatu hal yang bersifat eksklusif, tapi justru inklusif in term of interest dan tujuan bersama. Seperti menemukan induk dari anak-anak ide pencarian saya selama ini rasanya....

Sengaja saya menulis ini untuk tidak dimengerti, semakin anda bingung - semakin baiklah, oleh karena saat ini saya memang sedang menulis untuk diri sendiri, sebagai bentuk prasasti saja, bahwa langkah-langkah hidup saya telah membawa sampai pada titik ini. Supaya jika nantinya - semoga tidak -saya berhenti atau surut langkah lagi pada suatu proses yang membingungkan dari ketidakbingungan akan ide yang ada dalam pemikiran saya sekarang ini, saya bisa menyeret diri balik di titik ini, ndak gitu buang waktu lagi, berpusing-pusing pada pola masalah yang sama lagi.

"Tidak ada yg kebetulan, ini pasti leading to somewhere.. to a purpose, designed by Yang Maha Aneh," pikirku. Walau, tentu saja, ku paham akan adanya beberapa resiko yang mengikuti, antara lain seolah-olah menjadi terlihat lebih terpisah dari dunia yang tidak aneh.
Serangkain proses tiada henti siap menanti untuk di jalani, dalam hal mana nantinya, setiap jengkal proses yang terkait dengan keanehan yang dijalani akan menuntun pada suatu pemahaman, yang mana nantinya akan menjadikan keanehan itu menjadi tidak aneh bagi masing-masing orang aneh yang melakoninya, walaupun bagi orang tidak aneh, hal itu mungkin menambah kadar keanehan orang aneh, vis-a-vis orang tidak aneh yang pada saat tertentu mempertanyakan suatu hal terkait ketidakanehannya, yang justru menjadikan mereka menjadi orang aneh dalam parameter ketidakanehan mereka.

Sebenarnya, tidak ada keanehan dalam kongkow-nya orang-orang aneh, karena pen-stample-an diri sebagai orang aneh hanya ada saat diperbandingkan dengan keberadaan orang tidak aneh. Tidak ada juga pembicaraan yang aneh. Semuanya ada dalam bentuk kewajaran saja. Ide atas isu-isu yang diangkat di dalam komunitas, tetaplah terbuka bagi orang tidak aneh untuk menuduhnya sebagai hal yang nonsen bin absurd, referensi pemahaman atas suatu phenomena ataupun kejadian, tetaplah terbuka bagi orang tidak aneh untuk mengkritisi atau bahkan langsung menuduh itu semua sebagai justifikasi.

Jika ditanya keuntungan apakah yang ada dalam berkomunitas dengan orang aneh? keuntungannya adalah kesadaran bahwa itu semua bukan untuk mencari untung. Maka pilihan berkomunitas di sini adalah pilihan untuk berproses untuk mengenali dan memahami keanehan orang aneh sehingga menjadi suatu bentuk kewajaran, dalam hal mana ketulusan adalah kata kuncinya.

Lalu kesimpulannya?

Segala hal yang diyakini sebagai aneh oleh orang-orang aneh di sini tidaklah untuk disimpulkan dalam bentuk definisi redaksional, tetapi lebih sebagai suatu konfirmasi atas suatu nilai yang diyakini - yang harus diamalkan, karena semua ini bukanlah proses pewacanaan kognitif, melainkan lebih pada refleksi empiris yang diolah menjadi sesuatu analisa pola yang aplikatif.

HwaRAKADah!

Tulisan Carut Marut

Tsunami di Aceh, gempa di Nias, Nabire dan lalu di Yogyakarta, belum lagi lindu yang juga menggoyang-dombret Padang, Manado, Maluku dan tempat2 lain. Ealah, pas gitu kok ya Merapi jadi muntah-muntah, 'mlukok'i hutan, kali dan daerah2 sekitarnya dan juga gunung-gunung lain jg turut menggeliat, malah dikasihi bonus lumpur panas yang mbleber di porong, 'Lailah!', semuanya menghimpit hati begitu banyak orang. Habis itu Sunarmi (Baca: tsunami) lagi-lagi berkunjung ke beberapa daerah pantai-pantai di pulau Jawa, termasuk Pangandaran.
Sementara banyak penjahat, eh pejabat, tetep saja berkecap, berujar, bersabda sana sini, berbuih-buih menjanjikan perbaikan dan pemulihan kesejahteraan. Sayang, suara yang sedianya untuk menenteramkan hati mereka yang menderita karena bencana, kalah keras dengan raungan cacing di perut mereka. Tapi mereka memang sungguh memberi, adakalanya saat orang-orang perlu cangkul, mereka memberi supermi, saat orang-orang perlu supermi, mereka meminta bukti ktp sebagai bukti.

Sementara lagi, di jalan-jalan, banyak gerombolan berebut benar dan suci, babat sani sini, seolah permasalah perut, permasalahan sosial, permasalan moral, semua bisa terselesaikan dengan klaim kebenaran, dgn bonus tampilan muka garang dan pedang. Yang duduk di kursi ndak mau kalah, mereka sibuk untuk membuat aturan moralitas bangsa dengan menuangkannya dalam hukum positif, entah dalam pertimbangan urgensi yang mana. Mungkin, dalam benak mereka - yang mungkin di dompet dan di hp mereka jg menyimpan nomer2 emergensi pelampiasan syahwat - jika moral sudah di atur negara, ini menjadi semacam short cut obat manjur bin cespleng utk mengobati segala macam borok dan acakadut di negeri ini, sehingga semua bisa lebih gampang berjalan teratur, dan selanjutnya terjadi keselarasan 'kosmik' di negeri ini. Sementara, perundangan lain, salah satunya perundangan perlindungsan saksi, biarlah dibahas tuntas lain kali, toh kalau semua telah bermoral, tidak akan ada banyak jatuh korban dlm berbagai kasus lagi.

Dalam kondisi seperti ini, media ndak akan kekurangan berita, justru malah terlalu bnyak berita utk di cover, sampai sampai berita ttg nasib temen2 di jogja, tertutupi berita tentang bola piala dunia dan seluk beluknya.

Ya begitulah, negeri ini seperti sedang dalam carut marut, miskin harmoni. "Sedang tidak terjadi keselerasan kosmik," mungkin begitu. Weh kok sampe ke kosmologi, emang kosmologi yg mana? Ya yang antroposentrik masih bolehlah.. yang dalam hal mana, dalam kosmos-magis ini, jika dibahasakan dlm bahasa 'tuduhan', semua ini terjadi oleh karena ketidakberesan manusia, terutama para pengampu negeri ini. Wah kok kejem ya? seperti pengkambing-hitaman saja. Tp ya gimana, wong kok ya 'ndilalah' semua ini terjadi pada saat ini. Dalam bahasa agamanya, "negeri ini belum akan pulih dan sejahtera, sebelum bangsa ini - tentu saja para pejabatnya - bertaubat". Wah...ini mah pernyataan yg absurd, yang ndak bisa dipertanggungjawabkan scr empiris....hehehe yo ben.

Saturday, March 18, 2006

SEPERTINYA AKU TERLUKA

Aku sering merasa sedih dan marah sekali akhir-akhir ini dan mataku tiba-tiba basah oleh air mata, dan hati seperti teriris rasanya. Nafas pun menjadi terasa berat dan tenggorokan kering. Dan ada kedongkolan yang menekan hati dengan begitu kuatnya, yang menyebabkan kepala belakangku terasa kebal dan otot leherku kaku.

Aku mungkin sudah stres! Bukan karena pekerjaan, bukan oleh karena cinta yang model 'ai lop yu - ai lop yu-an itu', bukan pula oleh karena kesepian hati. Aku bersedih oleh sebab ketidakberdayaanku, kepengecutanku, keegoisanku, dan juga ke-apatisan-ku terhadap apa yang terjadi didepan mata di penjuru negeri ini. Benar mungkin, aku ini bukan siapa-siapa, dan memang aku juga tidak pernah menginginkan menjadi pahlawan apapun itu, tidak pula ingin menjadi pejabat pemerintahan ataupun antheknya. AKu hanya ingin tetap menjadi 'bukan siapa-siapa', yang dengan iklas dan berani, bisa mengkontribusikan sesuatu yang sangat sederhana sekalipun untuk perbaikan dari sema carut marut ini.

Iya aku memang masih cengeng dan kolokan sekali. Aku seperti bayi tua yang hanya bisa menangis ketika menyaksikan hal-hal yang sesungguhnya sudah sekian lama terjadi, tapi begitu terlambatnya saya menyadari.

Aku memang sering ikut-ikutan membicarakan politik dan keadilan, juga menuliskan dan menghadiri seminar-seminarnya. Dan aku suka sekali. Tetapi itu hanya mengenyangkan pemikiran saja, dan sekarang hal itu justru membuat semakin gerah hatiku. Aku ingin merenanginya, menyelaminya. Di kolam tempat banyak orang bermain-main dan memainkan alirannya itu, sungguh telah banyak menenggelamkan orang-orang yang tidak berdaya. Dan selalu saja bertambah jumlah orang-orang yang ikut bermain.

Aku njenggirat dan tertegun saat beberapa teman-temanku ternyata sudah lama berbuat, bergerak, dan memberikan ketulusan perhatian mereka dalam tindakan yang benar-benar nyata untuk memperjuangkan kesejahteraan kaum-kaum terhimpit. Mempelajari permasalahan mereka, menyapa hati mereka, memikirkan jalan keluarnya dan empowering mereka. Tindakan konkrit yang membangunkanku dari tidur panjang selama ini. (semoga saya bener-bener bangun, dan tidak hanya ngelindur).Ternyata aku ini belum apa-apa.

Dengan sedalam-dalamnya kesadaranku, aku menjura hormat kepada mereka, dan mendoakan mereka dan semua usaha mereka dalam urutan yang lebih awal ketimbang kebutuhan-kebutuhan pribadi saya. Dalam doa, aku merasakan kelegaan, tapi juga kesedihan. Rasanya aku menjadi malu dihadapanNYA, malu karena begitu banyak talenta yang boleh aku terima, tetapi belum bisa aku persembahkan sebagaimana mestinya.

***
Ya, aku tahu, aku harus terus membuka diri untuk selalu dan terus belajar serta ngangsu 'kawruh' dari mana saja maupun siapa saja, dengan niatan untuk bisa iklas dan semakin iklas dalam mengamalkannya. Tidak lagi semata berlindung nyaman dibalik rak-rak buku ataupun logika pewacanaan saja. Aku menyadari, banyak kenyamanan akan hilang saat menyusuri lorong ini. Tapi dengan jalan ini pula, aku yakin, pujian Syukur akan berkumandang menghangatkan hati.

Kalau boleh, aku ingin tersenyum dalam kematianku kelak, senyum tipis saja, karena boleh ikut ambil bagian dalam pekerjaan ini. Bukan senyum kebanggaan atas ke-aku-anku, melainkan senyum karena kesempatan dan kemampuan yang diberikan untuk berbagi.

[...hiks..tapi masih saja saya belum berani bernyanyi sepenuh hati.. "Ambillah ya Tuhan, dan terimalah segenap kemerdekaanku, ingatanku, budiku, serta segenap kehendakku; apa saja yang kupunya dan kumiliki. Engkaulah yang telah memberikannya kepadaku, ya Tuhan, semua itu kupersembahkan kembali. Segalanya itu milik-Mu, pergunakanlah menurut kehendakMu...]

----------------------------------------------------
** All great deeds and all great thoughts have a ridiculous beginning. Great works are often born on a street corner or in a restaurant's revolving door. [Albert Camus]

Tuesday, March 14, 2006

INTRO

Intro

Here, somehwere, I deliberately attached this pale-looking face of mine, letting you grasp the chance to guess what kind of human I am. To predict what is hidden inside this brain.

I never wanna be conquered by appearance, neither judge others by such parameters. The thing that might take so much time for others to give their damn on it. Neither do I want to be proud which this appearance, as for me there is no pride, except for the realization that all should be respected the same “due to the grace from the mighty creator”, the one whose existence I really want to believe in.

I believe, everything comes from reasons, as well everything comes for purposes. Well, so is this blog then.. I create it due to some reasons and for some purposes.

This blog is just part of the shadows that I have come over in my life journey, or just caught from my thought. Nothing is so real here, but nuthing is so fake. Again, what I write here are all just shadows, quote close to the reality, but still they are parts of absurdity.

Here, call me LENINIUS, a name that might swing you to a perception that I might have been one of those who throw backs to the thoughts of Lenin, one of the notorious figure in history. Well, my answer is ‘not for that reason’ and ‘not for the purpose of wanting to imitate him’. Instead, the name is a wrap of my confession that ‘if God has the willing, He could simply turn any dictator becoming a messenger”, as what He did to Paul. (as in Bahasa Indonesia, many saints and martyrs have their names ending with –ius). Anyway, this blog is not about religion, but if there are some related-writings, please simply – again - considered them as shadows.

si Nurani

Nurani melenggang di penghujung senja…
dengan seutas tali digenggamannya.
Terseok letih, wajahnya pucat mayat,
dengan mata lembam tak bercahaya.
Bergulung kekecewaan dan amarah..
di setiap hembusan nafasnya.

Nurani sudah banyak dilupakan. Namanya hanya tertulis di lembaran buku kebijaksanaan yang cukup di baca dan dibicarakan saja, atau bahkan disimpan didalam lemari kaca, atau teronggok di gudang, tak tersentuh. Nurani, mulutnya telah lama di bungkam, bahasanya sudah susah dimengerti, dan kata-katanya bahkan ditertawakan.

***

Aku melihat seorang pengkotbah berpakaian perlente menjinjing tas berisikan buku-buku kebijaksanaan, berjalan bergegas menuju gedung megah peribadatan. Di dahinya ada tanda kepintaran. Dari mulutnya telah keluar berlaksa kata kebijaksanaan, yang terlepas meninju angin. Dengan langkah cepat, dia berjalan melewati sejumlah anak kecil kurus kering dengan batok kelapa yang usang di tangan, dengan wajah yang kelihatan lapar benar. Dia berlalu begitu saja, seperti melewati kebun kosong tak berpenghuni. Tanpa lirikan, tanpa helaan nafas panjang, bahkan tanpa tatapan sinis sekalipun. Sepertinya dia sama sekali tidak melihat keberadaan semua itu.

Di gedung megah peribadatan, dengan mengangkat tinggi-tinggi kitab kebijaksanaan, dia menceritakan, “masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan, yang kedinginan, tiada tempat berteduh di kala panas dan hujan…” Dan mereka yang mendengar, mengangguk-angguk berirama. “Oh di jaman ini? Menyedihkan sekali,” gemrenggeng suara mereka, dipantulkan dinding-dinding tebal gedung. “Mereka butuh uluran tangan kita… kehangatan hati kita, kepedulian kita. Suatu saat kita perlu pergi ke daerah anu, atau daerah ono, untuk berbakti sosial, menujukkan kepedulian kita,” lanjut sang pengkotbah seraya membenahkan pakaiannya. Mereka yang hadirpun mengangguk-angguk, menghitung neraca ‘rugi laba’ berkat dan kebaikan yang bisa mereka peroleh jika mereka nanti ikut serta dan menyumbangkan ini itu. Dan merekapun tepuk tangan.

Kotbah selesai, dan satu persatu hadirin beranjak pulang. Sang pengkotbah menepis-nepiskan bajunya, dan kemudian bergegas pulang juga. Dengan langkah cepat, dia berjalan melewati sejumlah anak kecil kurus kering dengan batok kelapa yang usang di tangan, dengan wajah yang kelihatan lapar bener. Dia berlalu begitu saja, seperti melewati kebun kosong tak berpenghuni. Tanpa lirikan, tanpa helaan nafas panjang, bahkan tanpa tatapan sinis sekalipun. Sepertinya dia sama sekali tidak melihat keberadaan semua itu.

***
Dan aku, yang mengikuti gerak langkah sang pengkotbah berbaju perlente tadi, sadar bahwa aku pun hanya sebatas melihat keberadaan mereka. Aku sungguh lupa untuk sekedarnya merogoh saku yang penuh uang ribuan, untuk mengulurkan barang satu dua lembar bagi mereka. Tidak juga aku menanyakan, mereka sudah makan belum, atau mereka sekolah apa tidak. Bahkan, saat tadi aku berada di gedung megah peribadatan, aku lupa mendoakan mereka.

Nurani melenggang di penghujung senja…
dengan seutas tali digenggamannya.
Terseok letih, wajahnya pucat mayat,
dengan mata lembam tak bercahaya.
Bergulung kekecewaan dan amarah..
di setiap hembusan nafasnya.

Tebet, 14 Maret 2006.

Friday, March 03, 2006

Grundelan

Hari kemarinnya saya nonton acara di tv, entah di channel mana saya lupa, ada ditayangkan bagaimana sodara-sodara kita di suatu dusun, yang mana penghasilannya dalam satu bulan rata2 anta 50 ribu - 100 ribu, ternyata tidak didaftar sebagai 'orang miskin' yang bisa mengambil dana kompensasi bbm yang besarnya 3 x 100 ribu di kantur pos. Nah, pagi harinya, saya mbaca article - dari media apa saya jg lupa - ada sekelompok orang2 yg bermobil justru mendapatlkan girik utk ngambil duwit di kantur pos, dimana digambarkan beberapa dr mereka mengambil dgn 'cengengesan' seakan2 mereka menghaki fasilitas itu.

Banyak sekali berita2 yang begitu saja membuatku ndak bisa berhenti membacanya, seperti artikel lain ttg nasib 'jasad' dari seorang anak yang meninggal krn flu burung, yg mana bapaknya - yang adalah seorang tukang ojek sepeda - ndak bisa membelikan peti untuk anaknya itu, dan akhirnya dikuburkan tanpa peti mati. Artikel2 ttg bagaimana harga minyak tanah terus krasan pada kisaran harga yang 'ngudubilah demit' mahalnya juga masih terus bertengger di halaman2 surat kabar, walaupun kamarintah sudah begitu semangatnya mematok harga bbm dengan prosentase kenaikan rata2 diatas 100 persen. Sebelum terjadi kenaikan saja, ada sodara kita - yg diliput harian jogja Kedaulatan Rakyat - yang bertahan hidup dgn makan arang. Pikir saya, gimana nasib beliau ini sekarang...
"Grundelan2" dari mulut orang2 yang saya jumpai, entah di angkot atau di pasar, entah di tempat cukur rambut atau jalanan, masihlah menjadi kontributor input yang dominan yang masuk liwat kedua telinga saya. Laba dagang dari mbok bakul Beringharjo yang turun sampe 20 %, supir2 angkot yang ndak bisa menuhin setoran, tukang cukur yang sambat musti mbayar biaya sekolah anaknya - walau pemerintah dr bulan maret lalu sudah mengalirkan Bantuan Operasional Sekolah (yang singkatannya saja BOS) sbg kompensasi pengurangan subsidi bbm pd tahap lalu.

Kadang 'grundelannya' sodara2 kita yg terkasih itu terasa begitu menggelitik, seperti SBY - JK dipanjangkan menjadi "Susah Bensin Ya - Jalan Kaki". La kalo jarak tempuhnya cukup dekat, kalau jauh ya jadi bener2 dengkelen itu kaki. Tapi kok kayaknya yang di grundheli itu ndak krasa, entah karena kebijakannya benar2 dipandang bijak, atau karena memang sudah ndak mampu mendengar, atau entah karena sudah males berpikir, bola-bali bikin kebijakan kok ya yang mbikin dahi berkerut.

Misalnya saja, keputusan untuk issue bond dalam dollar, la apa ini ndak mempertaruhkan anak bangsa namanya. Lola laline lupat, bisa benar2 menjadikan bangsa ini lebih kere lagi. Terus terkait dgn seruan president untk peran serta militer dalam melawan terorisme, ujug2 petinggi militer mewacanakan pengaktifan kembali Koter - komando teritorial, lailah!
(Terlalu banyak hal yang terjadi, yang ndak bisa menahan untuk berketik lompat sana-lompat sini.) Masih terkait dgn terrorsim, dari tahun 1995 saja telah terjadi ratusan bomb yang meledak, sementara BIN - yang dgn mudahnya akhir bulan lalu menuduh pergerakan mahasiswa ditunggangin (kendati toh memang ada yg titip2 pesen) - tidak bisa mendeteksi adanya ancaman2 tersebut. Sementara, saat ini, dibidang hukum, hasil dr kesimpulan investigatif BIN sudah bisa dijadikan bukti untuk suatu kasus terorisme sbgamana tertulis dalam uu anti-terrorism. Ya kalo hasil investigasi itu bener2 hasil dr usaha keras mereka, la kalo ngarang?? Wong dalam mencari para tersangka saja pertimbangan dari sisi supranatural masih terlihat ngeblak dipake, seperti kasus seorang wanita yg 'kerasukan' ruh patih Gajah Mada di Bali yg tempo hari menyebutkan nama dari 3 tersangka, yang mana dikabarkan nama2nya sesuai dgn inisial yg ditulis pulisi, misalnya.

Di bidang ekonomi, coba sekarang kita liat, BUMN mana yang benar2 memberi profit bagi pemerintah, ada berapa banyak? sementara nilai nominal yang di untal oleh para 'kirik2" itu sudah berapa banyak? Ndak heiran makanya ketika semua2nya mulai bangkrut, terus rame2 ada gerakan privatisasi BUMN. Denger2 Pertamina akan menyusul...la dalah. Tapi ya gimana lagi, kalo sementara anak negeri yang dipercaya utnk memegang kendali BUMN malah pada pesta pora nyuwil2 tumpeng penyangga kesejahteraan bangsa dan menjadikkannya konsumsi pribadi dan keluarga, seakan semua2 itu milik nenek moyangnya sendiri. Ya sementara biarlah itu diprivatisasi, toh nanti kalao memang dah ada pemerintah yang benar2 memperhatikan kesejahteraan bangsa, dan ada orang2 yang bener2 peduli sama nasib hari depan bangsa, itu semua bisa dinasionalisasi lagi.

Sementara kehidupan beragama pun terlihat begitu merosotnya, dalam urusan internal masing2 agama terlihat ada banyak pendangkalan, yang mana hakikat dan makrifatnya - katakanlah - banyak menghilang di sanubari umat, kalo toh ada terlihat keguyuban internal dalam syariat itupun sudah lumayan, menimbang adanya indikasi peningkatn radikalism surficial. Saya merasa ngeri untuk berketik lebih banyak ttg ini...

(saya jadi inget bagimana Romo Mangun swargi begitu cermat mengkap grundelan2 sodara2 kita ini, menuliskannya dan mengkompilasikannya dalam buku "Grundelan Orang Republik") Daripada saya nggrundhel sendiri, mendingan saya mau baca lagi grundhelan2 yang sudah tertulis dibuku ini...

Pagebluk

Cleret taun, luh braja.. terminologi yang dah lama sekali tidak terdengar, tetapi nyanthel di dalam pemikiran oleh karena pengalaman empiris di masa kecil, waktu masih bertelanjang dada - bercelana kolor, boleh nyipati phenomena antropologi kepercayaan Jawa yang maujud materi itu.

Konon jatuhnya cleret taun dan luh braja - yang berupa cahaya warna-warni terbang cukup pelan diangkasa - menandai akan datangnya pagebluk di wilayah mana materi itu jatuh. Merebaknya penyakit yang berujung pada kematian, kesukertaan bumi yang menjadikan tanaman gagal berbuah, larang pangan, larang sandhang, larang ayem, larang tentrem, mahal semua2nya dan juga carut marutnya kosmik adalah kejadian yang mewarnai kedatangan pageblug itu.

Manunggalnya niat para warga untuk kembali pada fitrah, yang diwujudkan dalam doa, laku dan sesajen pada pusat patron spiritualitas batin adalah daya upaya ampuh untuk menawarkan sukertaning bumi, menghalau reribet yang menggulung kawasan kehidupan dan penghidupan mereka. Lelakon yang salah dibenerkan, pemikiran yang bengkok diluruskan, back to the very norm. Pergerakan batin yang tulus dan serentak menuju pada kebenaran yang diyakini adalah titik balik untuk menisbikan sukerta dan mengembalikan keseimbangan mula-mula. Berat memang - tapi kebersamaan dalam penderitaan menelorkan niat bulat untuk bangkit lagi bersama-sama menuju pada tatanan yang tumata lahir dan batin.

Kalau toh negeri kita tercinta ini sekarang seperti dilanda pageblug, bijaksanalah kiranya jiga segenap warga negara merefleksikan segala kejadian kedalam diri masing-masing, untuk selanjutnya gumregah bangkit bersama-sama mulai ngurip-urip niatan hati untuk berpartisipasi dan cawe-cawe dalam membangun hidup kenegaraan, dari scope diri sendiri dulu. Yang tukang maling menghentikan kegiatannya dan mengembalikan yang bukan haknya, yang ada di pemerintahan semestisnya kembali mengingat lakon Petruk dadi ratu yang mana mengingatkan bagaimana tahta keturunan Abimanyu hanya bisa maujud saat dipangku oleh rakyat. Yang jadi pengusaha dan pemikir juga mengkontribusikan apa yang sebenarnya dari semula bisa diwujudkan demi tujuan kesejahteraan bersama, sementara rakyat juga mesti terus kritis dan bijaksana dalam mengsikapi hidup dan penghidupannya, baik sbg makluk pribadi pun sosial. Tetapi, selama kemanunggalan yang tulus tidak ada, selamat masih banyak niatan pura-pura, selama itu pula pageblug akan beranak pinak, bercucu cicit, merapalkan semakin banyaknya kemiskinan, kebodohan dan kematian bagi kaum marginal. O la la.........

CREDO

Credo adalah suatu pernyataan iman - a statement of belief - yang muncul dari kedalaman hati dan seharusnya menjiwai semua gerak pemikiran dan perbuatan. Credo merupakan peleburan dari dua kata latin Cor (yang berarti hati) dan do ( utk diberikan/dipersembahkan) - maaf kalo mungkin tidak pas soalnya saya buta hurup latin - yang secara harafiahnya kemudian berarti aku percaya, suatu pernyataan personal yang seharusnya tidak palsu dan tidak surficial, tetapi yang benar2 muncul dari kedalaman.

Sebagai pribadi, ternyata sulit sekali untuk bisa ber-Credo dengan sebenarnya, membutuhkan proses panjang yang berliku ke arah sana, perlu ketekunan, keuletan, ketulusan dan kepasrahan yang mendalam pada Siapa yang akan kita Credo-i. Kadang saya berseru, "Ya Engkau yang saya ingin Credo-i, kiranya bimbinglah saya untuk menge-Credo-i Engkau." Ungkapan Credo yang hanya berasal dari tenggorok dan langit2 mulut melalui bibir semata hanyalah ucapan kosa kata credo semata, bukan ungkapan kedalaman, bukan pernyataan iman, melainkan mungkin sekedar perkataan 'si imin.'

Ketika kita benar ber-Credo in Deum, maka kita akan berada dalam otoritas spiritualnya. Saat kita ber-Credo in Jesum Christum, maka setidaknya kita merasakan damai kasihNya. Begitu pula saat kita ber-Credo in Spiritu Sancto, kita ada dalam penyertaan bimbinganNya. Begitulah yang muncul dalam perenungan saya.
Jika saya mengaku ber-credo, tapi kemarahan masih bergulung-gulung mencengkeram perasaan saya, tentu saya mempertanyakan ke-credo-an saya. Begitu juga, jika saya ber-credo tapi masih bersungut-sungut dan menggrundel akan keadaan ekonomi saya yang lagi terpuruk, misalnya, saya juga merpertanyakan ke-credo-an saya. Tetapi jika saya ber-Credo lalu ada muncul kedamaian dan kesukaan untuk memaafkan dalam rajutan kasih, saya membayangkan itulah Credo. Jika saya ber-Credo terus mengalir rasa syukur akan apapun kondisi yang saya alami dan ada kekuatan baru untuk bangkit untuk berusaha lagi, saya membayangkan itulah salah satu buah dari Credo.

Saya masihlah bukan siapa-siapa, tapi kepada Siapa hati saya kebelet ingin Meng-Credo-i adalah segala-galanya. Dan saya juga bersyukur, banyak orang-orang baek yang telah, sedang dan akan selalu menguatkan serta membantu saya dalam proses ber-Credo saya. Ya, dimata saya, banyak terlihat buah2 Credo dalam perbuatan mereka.
Sungguh, saya - thuyul - pun ingin ber-Credo dengan baik dan benar :)

Karung Kalla

Konon, Karung Kala - yang nantinya lebih dikenal sbg bethara Kala - suka sekali makan orang2 'sukerta', seperti anak tunggal (ontang-anting), anak dua bersaudara (kedhana-kedhini), anak tiga cewek-cowok-cewek (sendang kapit pancuran), anak tiga cowok-cewek-cowok (Pancuran kapit sendang), anak lima bersaudra (pendawa), org yg berpergian sendiri di senja hari, dan lain sebagainya. Intinya, 'waduk'nya Kalla ini (eh sori kliru double LL) luas kayak kedung ombo, bisa nampung buanyak sekali dalam hitungan yang tidak umum.

Si Kalla ini ( salah lagi...sorry), yg kononnya berasalnya dari 'kama wurung' (sperm yg tak tersalurkan dgn benar) salah satu panutan dewa ini (sengaja tidak definitif), juga terbilang haus kuasa. Entah ada berapa banyak dlm lakon pakem atau carangan, dia berubah wujud untuk meng coup-de-tat suatu pemerintahan yg syah atas asas legal formal.

Kedekatannya pada dewan (eh kelebihan 'n' ya? biarin deh , wong ndak punya tip-ex), juga membuat di seperti punya privelege utk bergerak dan berpolitik lebih leluasa. Dalam beberapa hal, dia bahkan terkesan imune.

Karena keberadaan dan sepak terjangnya, menyebarlah trauma masal ditengah2 masyarakat. SUdah tak terhitung berapa banyak rakyat mati dijadikan santanpan dan slilitnya. Yang enak ditelen, yang ndak enak 'dilepeh' saja. Seakan2 nyawa rakyat sudah tidak ada ajinya 'babar blas'. Kebebasan bergerak dan kedamaian telah terenggut. Sungguh tragis. Sungguh ironis. Gelar 'bathara' yang disandangnya justru menjadi momok bagi rakyat, ketimbang menjadi 'pepunden' atau panutan.

Dalam beberapa lakon, ki Dalang menceritakan bahwa hanya Semar yang bisa nge-reh alias mengalahkan kebejatan dia. Tapi ndak tahu, ditunggu2 sampe jenggoten, Ki Semar (yg asli - bukan yang ngaku2) belum juga datang. Entah di mana keberadaannya. Mungkin lagi cukur rambut agar tetap ber-style kuncung, entah lagi nengokin cucu, atau justru malah lagi antri di kantor pos untuk mendapatkan dana tunai kompensasi BBM.

Edan tenan !!!

Non scholae sed vitae discimus

Non scholae sed vitae discimus - begitulah adanya, apalagi jika melongok sistem pendidikan nasional kita yang nota bene kebanyakan lipstik dan ketidaktuntasan - kita tidaklah belajar dari sekolah, tp terlebih belajar dari hidup, dimana ilmu netes jadi ngelmu, yang lebih dari sekedar ndremimil dihafalkan dan dimengerti, tapi juga di hayati dan dilakoni.

Bahwa setiap individu dikaruniai talenta dan kepandaian masing2 adalah berkat bagi kita semua, yang mana interaksi komunikasi antara sekumpulan individu selalu membuka cakrawala untuk pembelajaran baru. Ngangsu kawruh ada dalam setiap lini perjalanan, termasuk dari orang-orang yang sudah makan banyak garemnya hidup.

Seperti hari ini, ketika saya berkutat dgn pekerjaan kantor yang berjibun, ketika kepala juga pusing mikirin solusi untuk suatu masalah yang terjadi di kantor lain - yg mana pemecahannya belum didapet, saya justru mendapatkan banyak sekali hal baru yang begitu inspiratif dan menghidupkan kembali kinerja otak dan rasa saya.

I need a vision! begitulah saya merangkum input2 yang menggelora datang melalui panca indra saya. Melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang benar, dasar yang benar, penalaran yang benar, tujuan yang benar ternyata benar2 membangkitkan selera hidup. Bagaimana value bisa ditelurkan menjadi meaning, bagaimana ide lateral bisa teraplikasikan, bagaimana ilmu bisa jadi ngelmu, bagaimana kegagalan justru bisa jadi bandol pendulum yang mengayun menuju permulaan kesuksesan, bagaimana melihat keseluruhan sekaligus detail dari suatu keberadaan - dan banyak lagi yang tertulis disanubari. Evolusi, revolusi, lompatan quantum - semuanya butuh visi, perlu dedikasi dan komitmen, perlu idealisme dan totalitas (wuih berat bener nulisnya), perlu trust, perlu kejujuran dan ketulusan. Tidak boleh tanggung2, tidak suam-suam kuku, tidak banci - tapi perlu mengalir dengan fokus, berbekal daya dorong dalam inti kesadaran, baik kesadaran pekerti, kesadaran intelktual, kesadaran profesi, dan tentu saja kesadaran spiritualitas yang mendasari dan menjiwai setiap pergerakan.

Friday, September 02, 2005

Prolog


It comes from nothing, as nothingness is indeed somethingness, the undoubtable fact of origin, yet the questionable concept of existence.

I m not that weird. I m just normal - in term of being a human - as the way your are all normal.

So many things loaded up in mind, asking for the path to be released, no matter where, as the existence will give its own space for any released idea.